Toto's posts with tag: pak dhe
Assalamu'alaikum.... Bismillah.... Di tengah sepinya toko..., diantara kegiatan mencari aplikasi dan permainan baru, Otto menyempatkan diri menyapa pembaca setia. Hai.... He..he...... Dari tempatnya Pak Dhe Bambang, beliau menulis satu kata yang menarik, yang Otto dengar dari ayah atau ibu Otto. mBediding. Sebuah kata yang tidak pernah Otto dengar lagi. Seperti yang ditulis oleh Pak Dhe, mbediding adalah sebutan untuk kondisi lingkungan yang dingin yang membuat badan menggiggil (kathuk'en). Dan itu selalu terjadi pada saat penerimaan mahasiswa/siswa baru. Jadi bagi mereka pendatang di kota Malang akan mendapati kondisi dingin sebagaimana seharusnya kota Malang. Dan bagi mereka yang di ospek, selamat menikmati dinginnya pagi. Wassalam.
Assalamu'alaikum, sekalian aza, tapi Otto gak mo nulis, cuman kasih link, untuk kita renungkan, apa dan bagaimana sebenarnya hingga ada 1 syawal yang berbeda...  Kalo mo ditanggapi secara guyon, ya begini ini...  Wasalam...
Assalamu'alaikum...  Tadi pagi, seperti biasa, bangun agak kesiangan, jam 8:30, padahal mesthi bukak toko jam sembilan, aduh..., segalanya jadi terburu-buru. Terkadang pengen marah ke jam weker, kok gagal mbangunin Otto jam 7:30....  , padahal seingat Otto dia dipasang untuk berteriak-teriak jam 7:30. He..he.., bagitu dia berteriak, Otto secara gak sadar bangkit dan membungkamnya, terus kembali ke peraduan melanjutkan bobok....  Pak koran tadi pagi nawarin Jawa Pos , ada berita yang menarik, Gunung Kelud beraksi... Seperti biasa, saat ada keadaan Gunung hendak meletus, instansi terkait mulai dengan aksinya. Ini otto ambilkan dari jawapos..  " Antisipasi meletusnya Gunung Kelud terus dimatangkan. Departemen Kesehatan (Depkes) telah menyiagakan Pusat Penanggulangan Krisis (PPK) regional Surabaya. Tugasnya, membantu paramedis dari Kabupaten Blitar dan Kediri, Jawa Timur, jika sewaktu-waktu terjadi letusan. Kepala Pusat Pengendali Krisis Depkes Rustam Pakaya kemarin (3/10) menyatakan, pihaknya telah siap membantu Dinas Kesehatan di Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri jika Gunung Kelud benar-benar meletus. "Kami telah menyiagakan PPK Surabaya untuk mem-back up 154 personel kesehatan yang disiapkan Dinkes Kediri dan Blitar," katanya di Jakarta.
Bukan hanya paramedis. Kemarin, Depkes juga membagikan 100 ribu masker di 15 kecamatan. "Masker itu sangat berguna untuk mencegah penyakit pernapasan yang diderita warga dari debu vulkanik yang dikeluarkan kawah Gunung Kelud," jelasnya. Selain itu, kata Rustam, Depkes kemarin memasang dua tenda posko kesehatan di Kabupaten Kediri. "Besok (hari ini, Red), satu tenda posko lagi didirikan di Kabupaten Blitar," ujarnya. Di lain pihak, jelas dia, Dinas Kesehatan di dua kabupaten tersebut telah siap menghadapi status siaga yang ditetapkan sejak Sabtu (29/9). "Kabupaten Kediri telah menyiapkan lima rumah sakit untuk menampung korban letusan Gunung Kelud maupun dampak yang timbul pascaletusan," tegasnya. Dia menyatakan, lima RS itu akan dibantu 36 puskesmas. Di kelima rumah sakit dan 36 puskesmas tersebut telah disiapkan 35 dokter. "Dokter itu juga akan dibantu tiga dokter spesialis bedah, empat dokter spesialis penyakit dalam, tiga dokter spesialis anak, tujuh dokter spesialis kebidanan, satu dokter spesialis radiologi, dan satu dokter spesialis anestesi," jelasnya. Dokter-dokter tersebut disiapkan untuk membantu korban yang diprediksi berasal dari Kecamatan Plosoklaten, Puncu, Ngancar, dan Kepung, Kabupaten Kediri. Rustam juga menyatakan status rawan untuk Blitar. "Status Kabupaten Blitar rawan II, terutama di tiga kecamatan," ujarnya. Total penduduk di tiga kecamatan tersebut, berdasar catatan yang dia terima, mencapai 80.510 orang. Ada delapan kecamatan yang dinyatakan termasuk daerah rawan III dengan jumlah total penduduk 163.536 orang. "Untuk membantu mereka, Dinkes setempat telah menyiagakan 60 dokter umum, 15 orang dokter spesialis, 309 paramedis, 295 bidan, 27 sanitarian, 32 ahli gizi, 32 apoteker, serta 24 asisten apoteker," ungkapnya. Status Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur, sejak Sabtu (29/9) malam lalu dinaikkan dari waspada menjadi siaga. Penetapan itu dikeluarkan setelah terjadi peningkatan aktivitas gempa serta penggelembungan tubuh gunung akibat tekanan magma dalam perut gunung. Pos pantau Gunung Kelud di Desa Sugihwaras mencatat, sejak Kamis (27/9) hinga Sabtu (29/9), telah terjadi 26 gempa vulkanik. Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah menetapkan daerah rawan debu vulkanik sekitar 9 kilometer dari Gunung Kelud."
Sebenarnya siapa sich Gunung Kelud itu..? Gunung Kelud adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, Indonesia yang masih sangat aktif hingga saat ini. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, atau sekitar 27 km sebelah timur Kota Kediri.
Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 telah merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926, dan masih berfungsi hingga kini, istilah orang kita adalah sudetan.
Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919, 1951, 1966, dan 1990. Letusan yang terakhir Otto masih ingat, harus berangkat sekolah mengenakan penutup hidung, mulut serta google (penutup mata) untuk renang, karena debu vulkaniknya mencapai kota Malang. Gak kebayang bagaimana kondisi kediri dan Blitar saat itu
Apakah Gunung Kelud benar-benar siap untuk "bernyanyi" ? Pernah nonton pilem Dante's Peak? Untuk mengetahui sekilas bagaimana sebuah gunung "bersiap untuk bernyanyi" pilem ini cukup memenuhi syarat, bagi orang awam tentunya. Demikian pula dengan gunung Kelud. Andai memperhitungkan kapan gunung api "bernyanyi" semudah menghitung 1+2 = 3, kita gak akan serepot ini, namun repotnya, memperhitungkan kesiapan gunung berapi untuk "bernyanyi" sangatlah kompleks.Selama ini, hasil pengukuran selalu menunjukkan indikasi aktifitas, gak bisa menunjukkan kapan dia "bernyanyi". Gimana dengan gunung Kelud?. Ternyata, apa yang dikerjakan para pengamat gunung di Dante's Peak, sama dengan yang dilakukan para pengamat gunung di sini. Meskipun kita berharap dia gak meletus...
Yang pertama adalah Kegempaan. Sejak 26 September hingga 29 September 2007 pukul 14.00 terekam 54 gempa vulkanik dalam terdiri atas delapan kali gempa tektonik jauh dan satu kali gempa tektonik lokal. Karena hal itu, Tim Tanggap darurat Gunung Kelud membuat grafik energi kumulatif. Artinya, dari gempa-gempa ini ada energi yang mendorong kekuatan gempa itu untuk naik dan gempa vulkanik tampak lebih jelas dilihat dari grafik energi komulatif ini. Pada tanggal 29 September 2007, terekam gempa tremor vulkanik dengan amplitudo maksimum 2,5 mililiter. Faktor kedua dari visual, pada tanggal 15 September 2007 teramati adanya gelembung air di Timur danau kawah dan sampai saat ini masih berlangsung dengan radius lima meter, dan warna air berubah menjadi putih menyeluruh. Faktor ketiga yaitu kimia air danau kawah. Berdasarkan hasil analisa air danau kawah pada tanggal 18 September 2007, terdapat kenaikan konsentrasi kimia yang sangat signifikan dibandingkan data bulan Agustus 2007. Terutama unsur SO4 (belerang), Klorida, Florida, dan juga unsur logam lain. Kenaikan unsur-unsur tersebut berdasarkan kontribusi dari meningkatnya gas-gas magmatik yang larut dan terkondensasi ke dalam air kawah. Sehingga menyebabkan meningkatnya temperatur dan peningkatan derajat keasaman atau pH dan juga perubahan warna yang terjadi pada air danau kawah. Dalam kondisi normal, pH air danau kawah Gunung Kelud berkisar antara 6,5-6,7. Sedangkan pada periode Januari-pertengahan Agustus 2007, pHnya berkisar antara 5,76-6,8. Namun pada pengukuran awal Agustus-26 September 2007 terjadi penurunan PH secara Gradasi dari 6,93 menjadi 5,72. Kemudian faktor keempat, menurut data deformasi telah terjadi pembumbungan atau pengangkatan tubuh gunung api. Faktor kelima, pada suhu air danau kawah. Sejak Januari-September 2007 secara umum menunjukkan peningkatan suhu secara gradasi. Tanggal 11 September 2007-29 September 2007, terjadi peningkatan temperatur air danau kawah dari 34,5 derajat celcius-36,1 derajat celcius.
Dari keterangan di atas, gunung Kelud menunjukkan peningkatan aktifitas yang perlu diperhatikan.
Sebagai catatan kecil, letusan terakhir (1990) terjadi ketika temperatur air kawah sekitar 45 derajat celcius dan buih putih sudah memenuhi semua danaunya. Saat ini temperatur-nya masih di sekitar 36 derajat celcius dan buih putih sembulan gas magmatik masih setempat2. Ada beberapa hal penting yang perlu diingat-ingat adalah kenali dan catat tanda-tanda alam yang biasanya akan muncul sebelum bencana akan meletus atau akan mengeluarkan sesuatu. Untuk warga sekitar, atau teman-teman yang mempunyai saudara dekat gunung itu, perhatikan, dengarkan dan rasakan adakah sesuatu yang berbeda di sekitar kita bila dibandingkan dengan keadaan biasanya misalnya : - Hewan-hewan liar yang berlarian turun atau bersuara keras dan nampak gelisah. Atau hewan-hewan peliharaan kita apa menunjukkan gejala yang sama (misal burung dalam sangkar terbang gelisah, nabrak-nabrak sarang). Ini terjadi karena sifat material yang akan pecah atau tergerus akan mengeluarkan gelombang elektromanetik sehingga membuat hewan-hewan menjadi gelisah atau melakukan hal-hal yang tidak biasa. Atau adanya peningkatan panas di kawah gunungapi, dan peningkatan gempa volkanik
- Ada suara keras yang tidak pernah didengar sebelumnya misalnya suara gemuruh akibat kubah lava yang runtuh atau akibat longsor, ada kebakaran hutan,ada pohon yang tumbang akibat longsor, dll.
- Ada bau yang aneh yang tidak biasanya misal bau aneh (bisa bau belerang, bau basin yang menyengat).
- Ada perubahan mendadak sehingga kulit kita merasakan sesuatu yang tidak biasanya misalnya merinding.
Untuk diketahui juga, menurut Volkanologi Survey Indonesia sistem pemantauan sehari-hari G.Kelud dipusatkan di Pos Pengamatan Margomulyo, meliputi pemantauan visual dari warna, ketebalan dan tinggi asap solfatara (belerang) dan cuaca di sekitar puncak. Disamping itu pula dilakukan pengamatan langsung ke kawah meliputi pengukuran suhu air dan pengamatan perubahan warna air kelud serta pengamatan pergeseran gelembung-gelembung gas yang muncul yang dapat diamati pada permukaan air kawah. Selain secara visual pemantauan G. Kelud juga dilakukan dengan metoda sismisitas atau kegempaan. Gunung Kelud ini letusannya bisa lebih berbahaya dari Gunung Merapi. Gunung ini cukup memiliki keunikan yaitu ada pada bagian kawahnya yang berbentuk danau yang katanya volume air dikawah ini 2,5 juta meter kubik. Letusannyapun tidak seperti Merapi yang dapat diikuti dengan mudah. Kadangkala hanya tanda-tanda kenaikan suhu air danau ini. Trus tiba2 jegleerr !! Otto terusin ya, meski udah sangat panjang, dan udah bosen mbaca, tapi please, tahan kantuknya, ini yang terakhir...  Wilayah bahaya Ketika terjadi letusan, wilayah rawan bencana meliputi tujuh desa dalam tiga kecamatan di Kediri. Daerah rawan bencana itu adalah Desa Sugihwaras, Desa Sanding, dan Desa Babadan di Kecamatan Ngancar; Desa Sepawon di Kecamatan Plosoklaten; dan Desa Puncu, Desa Sumberejo, serta Desa Sonorejo di Kecamatan Puncu. Di wilayah Kabupaten Blitar, daerah bahaya antara lain Dusun Kali Badak, Kali Kuning, Gambar Wetan, dan Kampung Baru. Kampung-kampung itu hampir seluruhnya merupakan wilayah permukiman buruh perkebunan. Gak ada salahnya jaga-jaga... Wasalam...  Sumber tulisan 1. Jawa Pos 2. Rovicky at wordpress 3. Wikipedia edisi Indonesia 4. Media Center 5. Vulkanologi Survey Indonesia
| |