Blog EntryMutu vs UangJul 7, '08 1:00 AM
for everyone
Assalamu'alaikum...
Bismillah.....

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran:
Pasal 36 Ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2002 berbunyi "isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia"

Jelas sekali bukan, bahwa sinetron tidak ada yang memiliki kriteria tersebut. namun pada kenyataanya tidak ada satupun sinetron yang ditindak oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Hingga saat ini KPI hanya menyoroti hal-hal yang menonjolkan adegan berbau vulgar, seks, pelecehan, dan kekerasan. Ironis, karena bila mengacu pada hal tersebut, maka semestinya tidak ada tayangan pilem-pilem hollywood di tipi-tipi.

Otto memahami sepenuhnya bahwa aturan, dalam hal ini UU Penyiaran,  yang ada dibuat dalam kondisi ideal, dengan pemikiran yang mendalam tanpa melihat hal-hal yang berlaku di lapangan nantinya. Aturan tersebut tidak didukung dengan kriteria yang jelas tentang hal-hal yang nantinya menimbulkan pelanggaran.

Otto udah jarang menyaksikan televisi, sesekali azah. Otto jarang menyaksikan televisi karena terlalu berhamburannya sinetron yang bagi Otto betul-betul sajian yang berorientasi pada uang, bukan pada mutu. Semakin tinggi rating, maka bisa dipastikan sinetron tersebut dianggap bermutu. Padahal untuk penilaian mutu udah ada standarnya, yaitu UU penyiaran tersebut, bukan rating, yang respondennya azah enggak jelas, serta prosedur pengambilan sampelnya juga tidak jelas sama sekali.

Dulu..., dulu sekali...., Otto udah seneng dengan kehadiran TPI, saat masih numpang di TVRI. Sekarang, TPI bukan lagi Televisi Pendidikan Indonesia, karena udah menjadi setasiun televisi yang mengedepankan uang.

Karyawan SCA yang telah dikaruniai anak sering mengeluhkan tayangan sinetron yang jauh dari kesan mendidik ke arah yang baik. Otto merasa apa yang dikhawatirkan para orang tua itu sangat beralasan. Karena sebagai orang tua yang harus mendidik dan menghidupi keluarga seringkali harus berbenturan dengan televisi yang lebih sering di tonton oleh anak-anak mereka, bersama pengasuh mereka. Orang tua khan kerja. Yang tidak bekerja.., mungkin isteri, pun harus bersirobok dengan tayangan televisi seusai menyelesaikan pekerjaan yang bejibun di rumah.

Otto bukan tidak menghargai jerih payah mereka yang menghasilkan sinetron tersebut, hanya saja berharap, para kreator bisa membuat sinetron yang lebih mendidik. Acuan Otto adalah Si Unyil jaman dulu, Si Huma. Acara itu sangat cocok untuk perkembangan anak.

Bila kemudian dikembalikan kepada para kreator sinetron, mungkin akan diabaikan saja, karena darimana mereka mendapatkan uang bila tidak menuruti rating. Mengerikan.

Tingkat pendidikan warganegara Indonesia masih sangat rendah, masih sangat mudah dibodohi, masih sangat mudah dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir golongan. Bila kemudian sinetron tetep itu-itu azah, maka Otto yakin negara dan bangsa ini tidak akan pernah bisa maju berkembang dan besar dalam arti sesungguhnya. Dengan tingkat pendidikan yang sangat rendah begini, tontonan apapun di tipi akan mereka terima tanpa diolah dulu. Dan enaknya, tidak akan ada yang peduli dengan itu semua.

Sudah ada lembaga pengatur penyiaran, namun apa yang ada masih jauh panggang daripada api. Harapan sepertinya tinggal harapan, selama uang yang menjadi target.
Karyawan SCA udah 2 yang berlangganan televisi digital, untuk mengurangi efek negatif dari tayangan sinetron tersebut. Kapankah para kreator menyadari bahwa perubahan mutu sinetron ada di tangan mereka.

Otto kini sudah tidak lagi berpikir bahwa uang akan bisa meningkatkan mutu, karena sudah banyak industri yang menggratiskan layanannya dan masih bisa menghasilkan produk yang bermutu. Lihatlah lingkungann open source.

Baiklah, televisi kita udah memberikan banyak layanan gratis, namun yang Otto tekankan adalah mutu. Adalah tugas seluruh elemen bangsa dan negara ini untuk mengarahkan calon penghuni bangsa dan negara ini ke arah yang baik, bukan malah turut serta menghancurkan mereka dengan menciptakan tayangan yang merusak, mengotori otak dan mental mereka yang tengah berkembang.

Wassalam...

NB:
Ide berasal dari kompas

otto13 wrote on Jul 7
Ternyata ada yang udah nulis dan di upload berbarengan dengan tulisan Otto
http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/615
Silakan dibaca.....
othersides wrote on Jul 7
ehem...ehemm...
nunoe wrote on Jul 7
sama bro..
inilah kenapa saya jarang banget nonton tipi..
yg saya liat paling metroTV, liputan 6, si bolang, spongebob squarepants..ato kartun minggu pagi..hehehe...
lainnya, sukz..
fay10250 wrote on Jul 7
Saya masih sering nonton TV, tp mulut gak pernah berhenti mengomentari ato mengkritik, ( sampai-sampai suami ngedumel melihat tingkah saya) suami bilang entar jadi seperti orang gila yg ngomong sendiri tanpa ada respon dr orang lain. Emang kadang jadi geregetan kalo nonton TV yg hanya berorientasi pd uang. Jangan berharap mutu yg disajikan, kadang2 adegan yg KONYOL sering terlihat. Tp apa daya qta, aparat yg berwenang KPI ( Komisi Penyiaran Indonesia ) aja gak merespon tayangan yg tidak mendidik apa lagi penonton yg hanya boleh menonton tanpa boleh mengomentari. Mending nonton kartun deh seperti kata si Nunoe lebih memberikan tayangan yg menghibur dan kadang2 juga ada unsur pendidikannya.
otto13 wrote on Jul 7
nunoe said
ato kartun minggu pagi
Ini lagih donlot Inuyasha...
he...he.....
otto13 wrote on Jul 7
Mending nonton kartun
Tom and Jerry..., Otto suka itu.....
Lalu Avatar..., cuman ya itu..., diulang-ulang..., capee dech....
tintin1868 wrote on Jul 8
bermutu tidaknya tergantung penonton, herannya banyak yang komentar tapi tetap aja ditonton walupun ga bermutu.. tv pasti siaran yang disukai penonton demi mengejar rating.. mutu vs uang ga pengaruh disini deh kalu selera penontonnya emang "ga mutu"..
jadi kalu ga suka ya jangan nonton.. ngempi aja deh..
otto13 wrote on Jul 8
jadi kalu ga suka ya jangan nonton.. ngempi aja deh..
Hi...hi.....
Iya...., iyah.....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.